Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba
Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba

TPP Agam - Nagari Batu Taba : Nagari Batu Taba kembali memperlihatkan bahwa desa tidak pernah kekurangan semangat untuk tumbuh. Di tengah tantangan pertanian yang semakin kompleks, mulai dari perubahan cuaca, harga pupuk, hingga minat generasi muda yang mulai menjauh dari dunia tani, secercah harapan justru hadir dari tangan para petani milenial.

Sabtu, 23 Mei 2026, menjadi hari yang cukup berkesan bagi masyarakat Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek. Di sebuah lahan pertanian milik Fauzan, salah satu petani milenial binaan BUMNag Sukatan Batu Taba, dilaksanakan kegiatan Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial yang dihadiri berbagai unsur nagari dan masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar panen biasa. Ia menjadi simbol awal tumbuhnya kolaborasi antara BUMNag, pemerintah nagari, pendamping desa, dan generasi muda dalam membangun usaha pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Panen Perdana Bawang Merah Jadi Semangat Baru Petani Milenial

Sejak pagi, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi kebun. Hamparan bawang merah yang mulai dipanen menghadirkan suasana penuh rasa syukur. Meskipun sederhana, kegiatan ini terasa hangat karena dihadiri langsung oleh Wali Nagari Batu Taba Rahmat Hidayat, Ketua BAMUS Nagari Batu Taba Gusti Kamal, M.Pd, Sekretaris Nagari, pengurus dan pengawas BUMNag Sukatan, TPP Ampek Angkek, hingga masyarakat sekitar.

Di sela-sela kegiatan, para tamu undangan tampak berbincang langsung dengan petani dan melihat hasil panen yang mulai dikumpulkan. Dari lahan tersebut, diperkirakan hasil panen mencapai sekitar 1 ton bawang merah.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi petani milenial di Batu Taba, hasil ini menjadi langkah awal yang cukup menggembirakan.

Fauzan, pemilik lahan sekaligus salah satu petani milenial yang terlibat dalam program BUMNag Sukatan, mengaku bersyukur atas hasil yang diperoleh. Ia juga mengungkapkan bahwa panen sebenarnya direncanakan lebih awal.

“Sebenarnya kami sudah bisa panen seminggu yang lalu. Namun karena persiapan belum selesai dilakukan, akhirnya panen baru bisa dilaksanakan sekarang,” ujar Fauzan.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada proses, perhitungan, dan kesiapan yang harus diperhatikan agar hasil benar-benar optimal.

Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba

BUMNag Sukatan Batu Taba Dorong Kolaborasi Pertanian Desa

Kegiatan panen perdana ini juga menjadi bagian dari pengembangan unit usaha pertanian yang sedang dibangun oleh BUMNag Sukatan Batu Taba. Dalam beberapa tahun terakhir, BUMNag mulai mencoba membuka ruang usaha yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, salah satunya sektor pertanian.

Langkah ini dinilai penting mengingat sebagian besar masyarakat desa masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun selama ini, banyak petani bergerak sendiri-sendiri tanpa dukungan sistem yang kuat.

Wali Nagari Batu Taba, Rahmat Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal yang cukup baik dalam membangun kolaborasi antara BUMNag dan petani milenial.

“Kegiatan ini cukup berhasil sebagai langkah awal unit usaha pertanian melalui kolaborasi dengan petani milenial,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan kecil seperti ini perlu terus dijaga dan dikembangkan agar generasi muda mulai melihat pertanian sebagai peluang, bukan sekadar pekerjaan tradisional yang melelahkan.

Di banyak desa, tantangan terbesar pertanian saat ini bukan hanya soal modal dan cuaca, tetapi juga minimnya regenerasi petani. Anak muda lebih banyak memilih bekerja di kota dibandingkan turun ke sawah atau kebun. Karena itu, munculnya petani milenial seperti Fauzan menjadi harapan baru yang patut diapresiasi.

Ketua BAMUS Batu Taba Ingatkan Pentingnya Waktu Panen

Dalam kegiatan tersebut, Ketua BAMUS Nagari Batu Taba, Gusti Kamal, M.Pd juga memberikan pandangan yang cukup menarik terkait hasil panen bawang merah tersebut.

Ia menilai hasil panen perdana ini sudah cukup bagus untuk tahap awal. Namun ia juga mengingatkan pentingnya ketepatan waktu panen agar hasil yang diperoleh lebih maksimal.

“Hasil awal ini sudah cukup bagus. Namun mestinya jika dipanen lebih awal, hasilnya akan lebih baik. Karena jika sudah melewati masa panen, buah akan menyusut dan menjadi batang sehingga hasil tidak maksimal,” jelasnya.

Pernyataan itu menjadi catatan penting bahwa pertanian modern membutuhkan manajemen yang baik. Tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga perlu perencanaan, pengawasan, dan pengetahuan teknis yang tepat.

Hal-hal sederhana seperti menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga waktu panen ternyata sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.

Pentingnya SOP dan Pendampingan untuk Petani Milenial

Sementara itu, Ketua Pengawas BUMNag Sukatan Batu Taba, Sofia Murni, M.Pd menyoroti pentingnya aturan dan standar kerja dalam pengelolaan usaha pertanian desa.

Menurutnya, jika program pertanian ini ingin berkembang dan melibatkan lebih banyak petani milenial, maka harus ada SOP atau standar operasional yang jelas.

“Perlu dibuat aturan dan SOP yang baik agar bisa dilakukan oleh semua petani milenial sehingga hasilnya bisa maksimal,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sangat relevan. Selama ini, banyak usaha pertanian di desa berjalan secara spontan tanpa sistem yang jelas. Akibatnya, kualitas hasil sering tidak stabil dan sulit berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Dengan adanya SOP, petani memiliki pedoman yang sama dalam proses budidaya. Mulai dari pengolahan lahan, penggunaan bibit, pola pemupukan, hingga penanganan pasca panen.

Jika langkah ini berhasil diterapkan, bukan tidak mungkin Batu Taba nantinya memiliki kelompok petani milenial yang mampu menjadi contoh bagi nagari lainnya.

Direktur BUMNag Sukatan Batu Taba Bersyukur atas Panen Perdana

Keberhasilan panen perdana bawang merah ini juga mendapat perhatian langsung dari Direktur BUMNag Sukatan Batu Taba, M. Irfan. Di tengah suasana panen yang berlangsung sederhana namun penuh semangat itu, ia menyampaikan rasa syukur atas hasil yang berhasil dicapai bersama para petani milenial.

Menurutnya, panen perdana ini bukan hanya tentang hasil bawang merah yang diperoleh, tetapi juga tentang lahirnya semangat baru dalam membangun usaha pertanian desa melalui kolaborasi yang nyata.

“Kami bersyukur atas panen perdana ini. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi petani milenial dan perjalanan BUMNag Sukatan Batu Taba ke depannya,” ujar M. Irfan.

Ia menilai, keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian perlu terus didorong agar desa tidak kehilangan regenerasi petani di masa mendatang. BUMNag, kata dia, akan terus berupaya menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda yang ingin berkembang melalui sektor pertanian dan usaha produktif lainnya.

Bagi BUMNag Sukatan Batu Taba, kegiatan ini juga menjadi pembelajaran penting bahwa membangun unit usaha desa membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja bersama. Tidak semua langsung berjalan sempurna, namun keberanian untuk memulai menjadi langkah yang sangat berarti bagi kemajuan nagari.

TPP Ampek Angkek Dorong Penguatan Unit Usaha Pertanian Desa

Kegiatan pendampingan dalam panen perdana ini juga mendapat perhatian dari Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek. Pendamping desa melihat bahwa pengembangan unit usaha pertanian melalui BUMNag memiliki potensi besar jika dikelola secara serius.

Indra Nofiardi dari TPP Ampek Angkek menyampaikan bahwa BUMNag perlu terus berbenah dan meningkatkan kualitas pengelolaan usaha agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Pendamping berharap unit usaha BUMNag dapat terus berbenah dan meningkatkan hasilnya agar berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa sektor pertanian membutuhkan dukungan tenaga yang memahami bidang pertanian secara teknis agar hasil produksi lebih terkontrol.

“Khususnya kegiatan pertanian ini perlu melibatkan tenaga pertanian sehingga kualitas hasilnya dapat lebih terkontrol dan optimal,” tambahnya.

Pendampingan seperti ini menjadi penting karena desa tidak cukup hanya memiliki program. Yang jauh lebih penting adalah memastikan program berjalan dengan arah yang jelas, terukur, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kebersamaan di Tengah Ladang Jadi Penutup yang Menghangatkan

Makan bersama di ladang saat panen perdana bawang merah BUMNag Batu Taba
Makan bersama di ladang saat panen perdana bawang merah BUMNag Sukatan Batu Taba

Usai kegiatan panen perdana berlangsung, suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta yang hadir berkumpul sederhana di tengah ladang. Tidak ada jamuan mewah, namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan yang sulit digambarkan.

Tuan Rumah menyediakan bubur ketan dan kacang hijau untuk disantap bersama di lokasi kebun. Di tengah hamparan lahan pertanian dan aroma tanah yang masih basah, para tamu, petani, pengurus BUMNag, pendamping desa, hingga masyarakat duduk bersama sambil berbincang ringan tentang harapan pertanian desa ke depan.

Momen sederhana itu menjadi pemandangan yang mulai jarang ditemukan. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak antara masyarakat dan pemangku kepentingan. Semua larut dalam suasana kekeluargaan yang tumbuh dari hasil kerja bersama.

Beberapa masyarakat bahkan menyampaikan bahwa kebersamaan seperti ini sudah lama tidak dirasakan. Duduk bersama di tengah ladang setelah panen menghadirkan kembali nilai-nilai gotong royong dan kekompakan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa.

Di balik panen bawang merah tersebut, tersimpan pesan penting bahwa pembangunan desa bukan hanya soal hasil dan keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, desa juga membutuhkan ruang-ruang kebersamaan yang mampu mempererat hubungan sosial masyarakat.

Panen Perdana Jadi Awal Harapan Baru Pertanian Desa

Panen perdana bawang merah petani milenial Nagari Batu Taba akhirnya bukan sekadar cerita tentang hasil pertanian, tetapi juga tentang bagaimana kebersamaan, semangat gotong royong, dan harapan baru masih tumbuh subur di tengah masyarakat desa.

Panen ini memang belum sempurna. Masih ada evaluasi, pembelajaran, dan tantangan yang harus dihadapi ke depan. Namun justru dari proses awal seperti inilah pengalaman dibangun.

Desa membutuhkan keberanian untuk mencoba. Membutuhkan anak muda yang mau turun ke lapangan. Membutuhkan kolaborasi antara pemerintah nagari, BUMNag, pendamping desa, dan masyarakat.

Apa yang dilakukan BUMNag Sukatan Batu Taba bersama petani milenial hari ini menjadi contoh bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dijaga bersama.

Ke depan, harapan masyarakat tentu bukan hanya pada hasil panen yang meningkat, tetapi juga lahirnya ekosistem pertanian desa yang lebih modern, terencana, dan mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Nagari Batu Taba.