Perkembangan teknologi, kebutuhan mendasar TPP P3MD Agam

Kamis, 21 Mei 2026 pukul 22.00 WIB menjadi malam yang penuh semangat bagi para Tenaga Pendamping Profesional (TPP) P3MD Kabupaten Agam. Di saat sebagian besar orang telah beristirahat dan menikmati waktu bersama keluarga, para pendamping desa justru masih aktif berdiskusi serta sharing hasil tulisan  di grup WhatsApp. Kegiatan tersebut bukan sekadar obrolan biasa, melainkan bentuk komitmen bersama untuk terus meningkatkan kapasitas diri sebagai pendamping profesional di tengah perkembangan zaman yang semakin maju.

Diskusi yang berlangsung pada malam itu lebih banyak membahas tentang peningkatan kemampuan menulis, terutama dalam menyusun narasi kegiatan pendampingan agar lebih baik, menarik, dan mudah dipahami. Para pendamping saling berbagi pengalaman, memberikan masukan, serta belajar bersama mengenai teknik menulis artikel yang baik dan benar. Hal ini dianggap penting karena setiap kegiatan pendampingan di nagari perlu didokumentasikan secara tertulis agar dapat menjadi informasi, edukasi, sekaligus bahan publikasi kepada masyarakat luas.

Sebagaimana diketahui bersama, perkembangan teknologi informasi saat ini menuntut semua pihak untuk mampu beradaptasi dan mengikuti perubahan. Tidak hanya masyarakat umum, pemerintahan nagari dan wilayah dampingan juga mulai memanfaatkan teknologi digital dalam berbagai pelayanan kepada masyarakat. Oleh sebab itu, para pendamping desa dituntut tidak hanya mampu bekerja di lapangan, tetapi juga memiliki kemampuan dalam menyampaikan informasi melalui media digital secara profesional dan bertanggung jawab.



Melalui diskusi tersebut, para TPP P3MD Kabupaten Agam menyadari bahwa kemampuan menulis merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung tugas pendampingan. Narasi yang baik tidak hanya menggambarkan kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi juga dapat menjadi sarana inspirasi, edukasi, dan penyebaran informasi positif tentang pembangunan nagari. Dengan tulisan yang tersusun rapi dan komunikatif, berbagai program pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat lebih dikenal dan dipahami oleh masyarakat luas.



Hasil tulisan dan artikel yang dibuat nantinya akan dipublikasikan melalui blogspot masing-masing pendamping sebagai media informasi dan dokumentasi kegiatan. Keberadaan blogspot tersebut diharapkan menjadi wadah berbagi pengalaman, inovasi, serta perkembangan kegiatan pendampingan di setiap nagari. Semangat belajar yang terus dilakukan, bahkan hingga larut malam, menunjukkan bahwa TPP P3MD Kabupaten Agam tidak hanya fokus mendampingi masyarakat tapi juga melakukan peningkatan kapasitas diri 

 

TPP Ampek Angkek Hadiri Dua Rembug Stunting Sekaligus, Komitmen Bersama Menekan Angka Stunting di Nagari

Rembug Stunting di Nagari Ampang Gadang
Rembug Stunting di Nagari Ampang Gadang

TPP Agam - Nagari Ampang Gadang, Nagari Lambah : Persoalan stunting masih menjadi perhatian serius di berbagai nagari, termasuk di Kecamatan Ampek Angkek. Tidak hanya menjadi isu kesehatan, stunting juga menyangkut masa depan generasi muda yang nantinya akan menentukan arah pembangunan daerah. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah nagari, tenaga kesehatan, kader, hingga masyarakat.

Pada Rabu, 21 Mei 2026, TPP Ampek Angkek menghadiri dua agenda penting sekaligus, yakni kegiatan rembug stunting di Nagari Ampang Gadang dan Nagari Lambah. Dua kegiatan ini berlangsung hampir bersamaan sebagai bentuk keseriusan nagari dalam menyusun langkah penanganan stunting yang lebih terarah dan tepat sasaran.

Di Nagari Ampang Gadang, kegiatan dihadiri oleh Irawati dan Surya Putra dari TPP Ampek Angkek. Sementara itu, di Nagari Lambah, kegiatan rembug stunting dihadiri oleh Indra Nofiardi.

Rembug Stunting Nagari Ampang Gadang Bahas Angka Kasus yang Masih Tinggi

Kegiatan rembug stunting di Nagari Ampang Gadang berlangsung dengan penuh perhatian dan diskusi yang aktif dari berbagai unsur yang hadir. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat Ampek Angkek yang diwakili oleh Bapak Wahyu Hidayat, Ketua Bamus Nagari Ampang Gadang Bapak Yulyafri, S.Pd beserta anggota, Wali Nagari Bapak Budi Hartawan beserta perangkat dan wali jorong, TPP Ampek Angkek, pihak puskesmas, bidan, guru PAUD, kader posyandu, kader KB, KPM serta tokoh masyarakat.

Acara dibuka oleh perwakilan Camat Ampek Angkek, Bapak Wahyu Hidayat, yang menekankan bahwa persoalan stunting tidak bisa dianggap sebagai masalah biasa. Menurutnya, anak-anak hari ini adalah generasi yang akan menentukan masa depan nagari beberapa tahun mendatang.

“Penanganan stunting harus menjadi perhatian bersama. Ini bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tetapi tanggung jawab seluruh unsur yang ada di nagari,” ujarnya dalam sambutan.

Sementara itu, Wali Nagari Ampang Gadang, Bapak Budi Hartawan, menyampaikan bahwa rembug stunting menjadi forum penting dalam menentukan arah kebijakan dan kegiatan yang akan dimasukkan ke dalam RKP Nagari Tahun 2027.

Menurutnya, kegiatan yang diusulkan harus benar-benar berdasarkan kebutuhan masyarakat dan kondisi nyata di lapangan agar dana yang dialokasikan nantinya mampu memberikan dampak yang nyata terhadap penurunan angka stunting.

Baca Juga : Pertemuan Rutin Triwulan Rumah Desa Sehat: Pilar Konsolidasi Layanan Kesehatan dan Pencegahan Stunting di Nagari

Data Anak Stunting di Ampang Gadang Jadi Perhatian Bersama

Dalam sesi diskusi yang dipimpin langsung oleh Ketua Bamus Nagari Ampang Gadang, Bapak Yulyafri, S.Pd, terungkap bahwa jumlah anak stunting di Nagari Ampang Gadang mencapai 30 orang.

Angka tersebut menjadi perhatian serius seluruh peserta yang hadir. Sebab, jumlah tersebut dinilai cukup tinggi dan perlu dianalisis lebih jauh agar penyebab utamanya dapat diketahui secara tepat.

Berbagai pandangan pun muncul dalam forum. Ada yang menilai tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang besar, ada juga menyatakan bahwa anak stunting bukan warga nagari namun pendatang yang mendapatkan layanan di nagari sementara sebagian lainnya menyoroti kemungkinan layanan dan intervensi yang belum tepat sasaran.

TPP Ampek Angkek melalui Irawati menegaskan pentingnya rembug stunting dilaksanakan sesuai ketentuan agar setiap program yang direncanakan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

“Rembug stunting bukan sekadar kegiatan formalitas. Forum ini penting untuk memastikan intervensi yang diberikan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan keluarga berisiko stunting,” jelas Irawati.

Pernyataan tersebut mendapat dukungan dari peserta yang hadir. Sebab selama ini, banyak pihak menyadari bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya dengan pemberian bantuan sesaat, tetapi membutuhkan langkah yang berkelanjutan dan menyentuh akar persoalan.

Baca Juga : Anak Stunting di Nagari: Kisah Sunyi dan Peran Pendamping yang Tidak Pernah Tercatat

Prioritas Kegiatan Pencegahan Stunting di Nagari Ampang Gadang

Melalui dialog dan diskusi yang berlangsung cukup panjang, forum akhirnya menyepakati beberapa kegiatan prioritas yang akan diusulkan dalam perencanaan nagari.

Beberapa kegiatan prioritas tersebut di antaranya adalah pemberian PMT (Pemberian Makanan Tambahan), pelaksanaan kelas ibu hamil, serta sweeping kepada keluarga berisiko stunting.

Kegiatan sweeping keluarga berisiko dinilai penting agar data yang dimiliki nagari benar-benar akurat dan keluarga yang membutuhkan intervensi dapat segera ditangani.

Selain itu, kelas ibu hamil juga dianggap sebagai langkah preventif yang sangat penting. Edukasi kepada ibu hamil mengenai pola makan, kesehatan ibu dan anak, serta pemenuhan gizi sejak masa kehamilan diyakini dapat membantu mencegah lahirnya anak stunting di masa mendatang.

Di sisi lain, pemberian PMT menjadi salah satu bentuk intervensi langsung untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak yang berisiko maupun yang telah terindikasi stunting.

Baca Juga : Apa yang Harus Dibahas dalam Pertemuan Rutin Triwulan Rumah Desa Sehat (RDS)?

Musyawarah Nagari Tetapkan Bantuan Sembako untuk Anak Stunting

Menariknya, selain pelaksanaan rembug stunting, Nagari Ampang Gadang juga melaksanakan Musyawarah Nagari (Musna) penetapan penerima bantuan sembako untuk anak stunting.

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata intervensi spesifik yang langsung diarahkan kepada keluarga yang membutuhkan. Harapannya, bantuan sembako yang diberikan mampu membantu pemenuhan kebutuhan pangan keluarga sehingga kondisi gizi anak dapat semakin membaik.

Langkah tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena menunjukkan keseriusan pemerintah nagari dalam menangani persoalan stunting secara langsung.

Bagi masyarakat, bantuan seperti ini bukan hanya soal nilai bantuan yang diterima, tetapi juga menjadi bukti bahwa persoalan mereka diperhatikan bersama.

Rembug Stunting di Nagari Lambah
Rembug Stunting di Nagari Lambah

Rembug Stunting Nagari Lambah Fokus pada Penguatan Kader dan Ketahanan Pangan

Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan, Nagari Lambah juga melaksanakan rembug stunting yang dihadiri oleh Camat Ampek Angkek, Ketua Bamus Bapak Yollis Andri beserta anggota, Wali Nagari Bapak Fikri Farid beserta perangkat dan wali jorong, TPP Ampek Angkek, puskesmas, bidan, guru PAUD, kader posyandu, kader KB, KPM dan tokoh masyarakat.

Dalam forum tersebut terungkap bahwa jumlah anak stunting di Nagari Lambah sebanyak 16 orang.

Meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Nagari Ampang Gadang, peserta rembug sepakat bahwa penanganan harus tetap dilakukan secara serius dan berkelanjutan.

Berbagai usulan kegiatan kemudian dibahas bersama agar nantinya program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Nagari Lambah.

Beberapa usulan kegiatan prioritas yang muncul dalam rembug tersebut antara lain:

  1.  Konseling gizi
  2.  Pelatihan kader posyandu untuk ILP
  3.  Kelas ibu hamil dan ibu balita
  4.  Pelatihan pengolahan pangan bergizi
  5.  Pemberian bantuan pangan untuk stunting
  6.  Penyuluhan pemanfaatan pekarangan

Usulan tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak hanya fokus pada bantuan makanan, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan masyarakat dan penguatan kapasitas kader di lapangan.

Pelatihan pengolahan pangan bergizi, misalnya, dinilai penting agar keluarga mampu memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi makanan sehat dan bergizi untuk anak-anak.

Begitu pula dengan penyuluhan pemanfaatan pekarangan yang diharapkan dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan sehat secara mandiri.

Baca Juga : Rembug Stunting Nagari Batu Taba: Menyatukan Langkah untuk Generasi Sehat Tahun 2027

TPP Ampek Angkek Dorong Kolaborasi untuk Masa Depan Anak Nagari

Pelaksanaan dua rembug stunting di Nagari Ampang Gadang dan Nagari Lambah menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi lintas sektor.

TPP Ampek Angkek hadir bukan hanya sebagai pendamping administrasi, tetapi juga mendorong agar proses perencanaan berjalan partisipatif dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Stunting bukan persoalan yang selesai dalam satu kegiatan atau satu tahun anggaran. Dibutuhkan konsistensi, kepedulian, dan keberanian seluruh pihak untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan.

Harapannya, setiap program yang dirumuskan dalam rembug stunting benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak-anak di nagari.

Karena pada akhirnya, keberhasilan menurunkan angka stunting bukan hanya tentang statistik, tetapi tentang menyelamatkan masa depan generasi penerus nagari.

 

TPP P3MD Agam. Tak kenal waktu, malam hari pun dijadikan waktu sebagai waktu diskusi kegiatan pendampingan

Kamis, 21 Meii 2026 pukul 19.35 WIB menjadi salah satu bukti bahwa semangat pengabdian para Tenaga Pendamping Profesional (TPP) P3MD Kabupaten Agam tidak mengenal batas waktu. Meski malam telah tiba dan aktivitas harian sebagian besar masyarakat mulai berakhir, para pendamping desa tetap melaksanakan koordinasi dan diskusi terkait kegiatan pendampingan di nagari. Semangat kebersamaan dan tanggung jawab terhadap tugas menjadi alasan utama para pendamping terus aktif melakukan komunikasi demi kelancaran program di lapangan.


Walaupun tidak dapat bertemu secara langsung, perkembangan teknologi dimanfaatkan secara maksimal melalui video conference sebagai sarana koordinasi. Pertemuan daring tersebut menjadi wadah bagi para pendamping untuk menyampaikan informasi, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan, serta membahas berbagai persoalan yang dihadapi dalam pendampingan nagari. Dengan adanya komunikasi yang rutin, diharapkan seluruh kegiatan pendampingan dapat berjalan lebih terarah, efektif, dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan.

Kegiatan video conference yang berlangsung selama kurang lebih 15 menit itu dipimpin langsung oleh TAPM Kabupaten Agam, yaitu M. Riza Pahlevi dan Kasmadi. Dalam arahannya, kedua TAPM menekankan pentingnya menjaga koordinasi antarpendamping, memperkuat komitmen kerja, serta terus meningkatkan kualitas pendampingan kepada masyarakat nagari. Selain membahas pelaksanaan kegiatan, forum tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman dan solusi antarpendamping.


Meskipun singkat, kegiatan koordinasi malam itu memberikan manfaat besar bagi seluruh peserta yang hadir. Semangat diskusi yang tetap terjaga di malam hari menunjukkan dedikasi tinggi para TPP P3MD Kabupaten Agam dalam menjalankan tugas pendampingan. Dengan kerja sama dan komunikasi yang terus dibangun, diharapkan program-program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di nagari dapat berjalan semakin baik demi terwujudnya nagari yang maju, mandiri, dan sejahtera.

 

FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) STUNTING NAGARI DURIAN KAPEH DARUSSALAM


        Hari ini Rabu 20 Mei 2026 telah dilaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Stunting di Nagari Durian Kapeh Darussalam. Kegiatan ini dihadiri oleh RDS, Camat Tanjung Mutiara, Wali Jorong, Bidan Desa, Penyuluh KB, Pendamping PKH, TP-PKK Nagari dan PKK Jorong, Kader Posyandu, KPM, Guru Paud dan Perwakilan Remaja Putri dengan narasumber Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa dan Ahli Gizi Kecamatan Tanjung Mutiara.

      Kegiatan ini merupakan salah satu langkah awal untuk pencegahan stunting di tingkat Pemerintah Nagari. Melalui FGD stunting kita melakukan penggalian masalah berdasarkan 9 paket Layanan Konvergensi Stunting sehingga kita dapat mencarikan solusi berdasarkan potensi yang ada di Nagari.

Menggali Masalah Penyebab Stunting Di Setiap Jorong

        Berdasarkan hasil FGD Stunting nantinya akan disusun rancangan program dan selanjunya akan di bahas secara terbuka dan menyepakati prioritas kegiatan pada pelaksanaan rembuk stunting. Yang selanjutnya akan menghasilkan kesepakatan dan komitmen bersama untuk dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Nagari (RKP Nagari). 


Materi Stunting Oleh Ahli Gizi

Pengelompokan Masalah Masing-Masing Jorong





 

PELATIHAN DAN PEMBINAAN BUNDO KANDUANG NAGARI TIKU LIMO JORONG







     Pada hari ini Selasa 19 Mei 2026, Pemerintah Nagari Tiku Limo Jorong Melaksanakan Pelatihan Bundo Kanduang yang bertempat di Balairong Adat Nagari Tiku Limo Jorong. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang di Laksanakan Oleh Bundo Kanduang Nagari Tiku Limo Jorong, yang mana Pelatihan Bundo Kanduang ini berguna untuk memperkuat peran Perempuan minangkabau dalam kehidupan adat, keluarga, masyarakat.

    Menjadikan Bundo Kanduang kembali kepada perannya di Minangkabau yaitu " Limpapeh Rumah Nan Gadang" bermaknakan

Bundo Kanduang : Ibu atau perempuan yang di tuakan dalam suku/kaum yang sudah berumah tangga

Limpapeh : tiang penyangga atau penguat

Rumah nan Gadang : rumah adat minangkabau, simbol keluarga dan kaum

    Secara keseluruhan, uangkapan ini berarti bahwa perempuan minangkabau menjadi penopang utama kehormatan, pendidikan, adat dan keharmonisan keluarga. Seorang Bundo Kanduang diharapkan dapat Menjaga adat dan sopan santun, mendidik anak dan kemenakan, menjadi teladan dalam keluarga dan serta menjaga persatuan kaum. 

    Maka dari itu, Pelatihan Bundo Kanduang ini dikira sangat penting dalam membentung karakter serta fungsi utama Bundo Kanduang di Lingkungan Masyarakat. dalam kegiatan ini, bundo kanduang memakai pakaian Baju basiba yang melambangkan Padusi/Perempuan Minangkabau, yang bermaknakan bukan hanya sebagai pakaian Tradisional, tapi juga simbol keanggunan dan nilai moral perempuan Minangkabau.

 

Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Agam: Dari Aula Nagari Ladang Laweh, Semangat Pendampingan Kembali Dikuatkan

Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Agam
Rapat Koordinasi Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Agam

TPP Agam - Kabupaten Agam :
Tanggal 20 Mei 2026 menjadi hari yang terasa berbeda bagi para Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Agam. Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, seluruh pendamping desa dari 16 kecamatan berkumpul dalam satu ruang, satu semangat, dan satu tujuan: memperkuat kerja-kerja pendampingan demi kemajuan nagari.

Bertempat di Aula Nagari Ladang Laweh, Kecamatan Banuhampu, Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Agam berlangsung hangat, santai, namun penuh makna. Seluruh unsur TPP hadir mulai dari TAPM Kabupaten, Pendamping Desa (PD), hingga Pendamping Lokal Desa (PLD). Di balik canda tawa dan senda gurau yang sesekali pecah di ruangan, tersimpan diskusi serius tentang masa depan pendampingan nagari di Kabupaten Agam.

Kegiatan ini dipandu langsung oleh TPP Kecamatan Banuhampu sebagai tuan rumah yang menyambut seluruh peserta dengan suasana kekeluargaan yang kental. Semangat kebersamaan terasa sejak awal acara dimulai.

Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Agam Dibuka dengan Semangat Kebersamaan

Kegiatan dibuka oleh Koordinator Kabupaten Agam, M. Riza Pahlevi. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa kerja pendampingan bukan sekadar rutinitas administrasi, tetapi sebuah amanah untuk memastikan pembangunan nagari berjalan sesuai arah dan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, capaian yang diraih TPP Kabupaten Agam selama ini tidak lahir dari kerja satu atau dua orang saja, melainkan hasil kerja kolektif seluruh pendamping di lapangan.

“Apa yang diapresiasi banyak pihak terhadap TPP Agam selama ini adalah hasil kerja bersama. Tidak ada yang bekerja sendiri. Semua saling menopang,” ungkap M. Riza Pahlevi di hadapan peserta rapat.

Kalimat tersebut seolah menjadi pengingat bahwa kerja pendamping desa sering kali tidak terlihat, tetapi dampaknya nyata dirasakan masyarakat.

Baca Juga : Tugas Tenaga Pendamping Profesional Sesuai Kepmendesa Nomor 294 Tahun 2025: Hadir Mendampingi, Menguatkan, dan Membangun Desa dari Akar

Evaluasi Pendampingan Desa dan Penguatan Etika TPP

Materi pertama disampaikan oleh Kasmadi yang menyoroti persoalan Pengaduan dan Penanganan Masalah (PPM). Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan pentingnya menjaga etika sebagai pendamping desa, baik dalam komunikasi, pola kerja, maupun sikap di tengah masyarakat.

Menurutnya, tantangan pendampingan saat ini semakin kompleks. Karena itu, TPP harus mampu menjaga profesionalisme dan memahami sistem kerja dengan baik.

“Pendamping harus menjadi contoh. Cara berbicara, bersikap, hingga bagaimana menyelesaikan persoalan di lapangan harus dijaga,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Kasmadi juga menguatkan pentingnya Pengembangan dan Peningkatan Kapasitas (PPK). Setiap TPP dinilai perlu terus belajar dan meningkatkan kemampuan agar mampu memfasilitasi nagari secara maksimal.

Di tengah dinamika regulasi yang terus berkembang, kemampuan memahami aturan menjadi kebutuhan utama. Salah satu yang turut disoroti adalah pentingnya penatausahaan regulasi nagari agar lebih tertib dan terdokumentasi dengan baik.

Diskusi ini menjadi refleksi bahwa pendamping desa tidak hanya bekerja mendampingi administrasi, tetapi juga menjadi penghubung antara regulasi dan kebutuhan nyata masyarakat di nagari.

Baca Juga : TPP Kerja Berdampak: Kerja Sunyi Pendamping Desa Mengubah Wajah Desa

Desa Digital dan Pentingnya Website Nagari yang Aktif

Suasana rapat semakin hidup saat Ade Mairawati menyampaikan materi terkait publikasi kerja-kerja pendamping dan pentingnya desa digital.

Ia menilai selama ini banyak kerja baik yang dilakukan nagari maupun TPP, namun belum diketahui luas oleh masyarakat. Padahal, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.

Menurutnya, website nagari harus dihidupkan dan dimanfaatkan sebagai ruang informasi publik.

“Apa yang dilakukan nagari perlu diketahui masyarakat. Keberhasilan nagari jangan hanya diketahui di internal saja,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa transparansi penggunaan dana desa menjadi salah satu alasan penting mengapa website nagari harus aktif. Informasi kegiatan, pembangunan, hingga capaian nagari perlu dipublikasikan secara terbuka.

Pesan ini terasa relevan di tengah perkembangan teknologi digital saat ini. Nagari tidak bisa lagi hanya bergerak secara konvensional. Keterbukaan informasi dan dokumentasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.

Bagi TPP, hal ini sekaligus menjadi tantangan baru untuk terus mendorong nagari beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Baca Juga : Pembangunan Desa: Antara Program Pemerintah dan Kekuatan Masyarakat

Perencanaan Nagari Harus Berbasis Data dan Kebutuhan Warga

Selanjutnya, Erni Novitri membahas tentang pentingnya perencanaan nagari yang dimulai dari data dan kebutuhan nyata masyarakat.

Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa proses perencanaan tidak boleh dilakukan secara asal ataupun hanya sekadar menggugurkan kewajiban administrasi. Semua harus dimulai dari pendataan yang benar dan musyawarah yang melibatkan masyarakat.

Menurutnya, dana desa harus dikawal agar benar-benar tepat sasaran dan sesuai regulasi.

Jangan memotong proses dan meniadakan proses. Perencanaan harus berjalan sesuai tahapan agar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kualitas musyawarah di nagari. Sebab dari forum itulah arah pembangunan ditentukan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan desa bukan hanya tentang besarnya anggaran, tetapi bagaimana prosesnya dijalankan dengan benar.

Pendamping desa pun memiliki peran penting untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai aturan tanpa menghilangkan substansi partisipasi masyarakat.

Baca Juga : APBDes: Kunci Membangun Desa yang Transparan dan Tepat Sasaran

BUMNag Menjadi Fokus Pendampingan Tahun 2026

Pembahasan berikutnya disampaikan oleh Wahyu Satria yang mengelaborasi kondisi dan perkembangan BUMNag di Kabupaten Agam.

Saat ini, kata Wahyu, fokus utama pendampingan BUMNag adalah pendaftaran badan hukum dan pemeringkatan BUMNag. Kedua hal ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan legalitas dan pengembangan usaha nagari ke depan.

Namun di lapangan, masih terdapat berbagai kendala yang dihadapi pengurus BUMNag. Karena itu, setiap persoalan diminta dipetakan dan dibuatkan kronologinya agar lebih mudah dicarikan solusi bersama.

“Masalah di lapangan jangan dipendam sendiri. Petakan persoalannya, susun kronologinya, lalu kita cari solusi bersama,” jelas Wahyu Satria.

Diskusi tentang BUMNag menjadi salah satu sesi yang cukup menarik perhatian peserta. Sebab, keberadaan BUMNag kini menjadi salah satu ujung tombak dalam meningkatkan ekonomi nagari.

TPP diharapkan tidak hanya hadir sebagai pendamping administrasi, tetapi juga mampu menjadi fasilitator dalam pengembangan potensi usaha nagari.

Baca Juga : Penyertaan Modal BUMDes: Strategi Tepat Membangun Ekonomi Desa

Dana Desa Kabupaten Agam Sudah Cair Penuh di 52 Nagari

Pada sesi penutup, M. Riza Pahlevi kembali menyoroti sejumlah agenda penting TPP Kabupaten Agam tahun 2026.

Salah satunya terkait penyusunan laporan pemanfaatan anggaran nagari sesuai APB Nagari tahun 2026 yang menggunakan format tersendiri menyesuaikan kebutuhan data di pusat. Format ini direncanakan mulai efektif diterapkan pada awal Juni mendatang.

Selain itu, ia juga menyampaikan perkembangan pencairan dana desa di Kabupaten Agam.

Dari total 92 nagari yang ada, saat ini dana desa telah cair di 52 nagari. Dengan cairnya anggaran tersebut, nagari diharapkan segera melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

“Dana yang sudah cair harus segera diserap untuk kegiatan yang tepat sasaran dan tepat manfaat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa percepatan pembangunan nagari harus diiringi dengan kualitas pelaksanaan yang baik.

Baca Juga : Dana Desa 2026: Membaca Tiga Regulasi dan 8 Prioritas Penggunaan Secara Utuh dan Nyambung

Pendampingan Desa Bukan Sekadar Tugas, Tapi Pengabdian

Rapat Koordinasi TPP Kabupaten Agam kali ini bukan hanya menjadi ruang evaluasi dan penyampaian program kerja. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi tempat memperkuat semangat kebersamaan di antara para pendamping desa.

Di tengah berbagai tantangan yang ada di lapangan, para pendamping tetap hadir mendampingi nagari dengan segala dinamika dan keterbatasan yang ada.

Hari Kebangkitan Nasional yang bertepatan dengan kegiatan ini seakan menjadi simbol bahwa semangat membangun dari nagari tidak boleh padam. Pendampingan desa bukan hanya pekerjaan administratif, tetapi bagian dari pengabdian untuk memastikan masyarakat desa mendapatkan pembangunan yang adil, tepat, dan bermanfaat.

Dari Aula Nagari Ladang Laweh, semangat itu kembali diteguhkan: bahwa membangun nagari membutuhkan kerja bersama, komunikasi yang kuat, dan komitmen yang terus dijaga dari waktu ke waktu.