Dari Identifikasi Menuju Pemulihan

Dari Identifikasi Menuju Pemulihan Paska Bencana 2025 ( Erni Novitri_ TAPM Kemendesa_ Kab Agam)

Pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali bangunan yang rusak. Ia adalah proses memulihkan kehidupan, mengembalikan harapan, dan memastikan masyarakat memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap risiko bencana di masa depan. Semangat inilah yang menjadi landasan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2026 dan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di wilayah Sumatera.

Melalui alokasi anggaran jangka panjang periode 2025–2029 sebesar Rp73,98 triliun, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mengakselerasi pembangunan kembali infrastruktur, normalisasi sungai, rehabilitasi lahan pertanian, serta pemulihan ekonomi masyarakat dengan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable—membangun kembali dengan kualitas yang lebih baik, lebih aman, dan berkelanjutan.

Di Sumatera Barat, proses tersebut mulai menunjukkan hasil. Rehabilitasi sekitar 3.902 hektare lahan pertanian telah memasuki tahap kontrak hingga sekitar 98%, dengan progres pekerjaan lebih dari separuh target. Pada saat yang sama, pembangunan infrastruktur pengendali banjir, perkuatan tebing sungai, pemulihan fasilitas pendidikan, kesehatan, serta bantuan stimulan bagi rumah terdampak terus dilaksanakan melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan badan usaha.

Di balik angka-angka tersebut, terdapat kerja lapangan yang menjadi fondasi keberhasilan program. Salah satunya berlangsung di Nagari Sungai Landia, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Pada hari ini, Tim Kementerian Desa yang terdiri dari Bapak M. Qabul Rizki, Bapak Yasir Amri Prayoga, dan Ibu Linda Yunita Sari melaksanakan identifikasi sarana dan prasarana Layanan Pendidikan Dasar TK Al Kausar sebagai bagian dari Paket Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Sumatera Barat.

Kegiatan identifikasi menjadi tahapan penting dalam memastikan bahwa setiap usulan pembangunan benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan, kebutuhan masyarakat, serta memenuhi prinsip akuntabilitas dalam penggunaan dana APBN yang dialokasikan melalui Rencana Kerja Pemerintah dan kementerian teknis terkait.

Di Kabupaten Agam sendiri terdapat delapan lokus bantuan, terdiri atas tujuh lokus yang berada pada Direktorat Jenderal Prasarana dan satu lokus pada Direktorat Jenderal Sosial, Ekonomi, dan Budaya, meliputi:

Sanitasi (2 lokus)

Air Bersih (2 lokus)

Jembatan (2 lokus)

Layanan Pendidikan Dasar (1 lokus)

Stimulan Pengelolaan Sampah (1 lokus)

Agar seluruh intervensi berjalan sesuai tata kelola pembangunan daerah, pemerintah nagari pada setiap lokus akan segera melakukan Perubahan RKP Nagari Tahun 2026 dan Perubahan APB Nagari Tahun 2026 sebagai dasar hukum pelaksanaan kegiatan.

Kegiatan lapangan ini turut didampingi oleh Kabid Pembinaan PAUD dan Litmas Dinas Pendidikan Kabupaten Agam, Bapak Yandi, Koordinator TAPM Kabupaten Agam, M. Riza Pahlevi, TAPM Wilayah, Erni Novitri, Pendamping Desa Adytia Rahmat, serta Pendamping Lokal Desa Hermayenti. Hadir pula Sekretaris Camat IV Koto, Amrizal, Sekretaris Nagari Riko Pratama, Kasi Kesra Geni, Wali Jorong Baruah Yogi, serta tokoh masyarakat yang memberikan berbagai masukan terhadap kebutuhan riil di lapangan.

Partisipasi berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa rehabilitasi pascabencana bukan hanya agenda pemerintah, melainkan proses kolaboratif yang mengintegrasikan kebijakan nasional, perencanaan nagari, pendampingan teknis, dan aspirasi masyarakat.

Di penghujung kegiatan, doa-doa warga mengiringi setiap langkah tim. Mereka berharap seluruh proses identifikasi dapat segera berlanjut menjadi pembangunan nyata yang menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, layanan dasar yang lebih baik, serta kehidupan masyarakat yang semakin tangguh menghadapi bencana di masa depan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari banyaknya infrastruktur yang selesai dibangun, tetapi dari pulihnya kepercayaan, tumbuhnya harapan, dan meningkatnya ketahanan masyarakat untuk melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar