KEGIATAN KUNJUNGAN KADIS PERTANIAN PROPINSI SUMBAR KE BUMNAG LUBAS MANDIRI DI LIPUT OLEH STATSIUN TVRI

 

Bedah Kasus Stunting Jadi Fokus Rumah Desa Sehat Nagari Panampuang

Pertemuan RDS Nagari Panampuang
Pertemuan RDS Nagari Panampuang

TPP Agam - Panampuang : Komitmen bersama dalam percepatan penanganan stunting kembali ditegaskan melalui kegiatan Rumah Desa Sehat (RDS) Nagari Panampuang yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026, di Aula Nagari Panampuang, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wali Nagari Panampuang, Bapak Etriwarmon, S.Pd, Sekretaris Nagari, Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Ampek Angkek yakni Indra Nofiardi, Irawati, dan Surya Putra, bersama kader Posyandu, kader KPM, penyuluh KB, guru TK/PAUD, serta bidan desa.

Pertemuan berlangsung penuh diskusi dan keterbukaan. Tidak sekadar membahas data angka, forum Rumah Desa Sehat kali ini juga membedah persoalan yang dialami setiap anak stunting di Nagari Panampuang. Satu per satu kondisi anak dibahas untuk mengetahui akar persoalan yang menyebabkan terjadinya stunting.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa di Nagari Panampuang terdapat 35 ibu hamil, dengan rincian 2 orang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan 1 orang kategori risiko tinggi (resti). Selain itu, terdapat 422 anak balita dengan 43 anak terdata mengalami stunting.

Namun di balik angka tersebut, terdapat persoalan yang berbeda-beda pada setiap keluarga. Dalam diskusi terungkap bahwa sebagian kasus stunting dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga sehingga kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi dengan baik. Di sisi lain, ditemukan pula keluarga dengan kondisi ekonomi cukup baik, tetapi kurang memahami pentingnya pemenuhan gizi dan dampak stunting terhadap tumbuh kembang anak.

Hal inilah yang menjadi perhatian serius dalam forum tersebut. Peserta sepakat bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama kepada semua keluarga.

Baca Juga : Wujud Kepedulian Nagari, RDS Koto Gadang Anam Koto Bantu Ibu Hamil dan Anak Berisiko Stunting

Wali Nagari Panampuang, Etriwarmon, S.Pd, menyampaikan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi menyangkut masa depan generasi nagari. Menurutnya, seluruh unsur harus bergerak bersama dan memahami kondisi riil masyarakat.

“Kadang kita melihat persoalannya sama-sama stunting, padahal penyebabnya berbeda. Ada yang terkendala ekonomi, ada yang kurang pemahaman. Maka solusi yang diberikan juga tidak bisa disamaratakan,” ujarnya.

Dalam kegiatan itu, peserta juga melakukan pemetaan sasaran 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai langkah awal menentukan intervensi prioritas terhadap keluarga berisiko stunting. Selain itu, forum membahas implementasi 9 layanan konvergensi stunting yang meliputi layanan kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih, perlindungan sosial, hingga edukasi keluarga.

Pertemuan RDS Nagari Panampuang
Suasana Pertemuan RDS Nagari Panampuang

Salah seorang kader Posyandu yang hadir menyampaikan bahwa pendekatan kepada masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus agar kesadaran tentang pentingnya gizi dan kesehatan anak semakin meningkat.

“Masih ada orang tua yang menganggap anak pendek itu biasa karena faktor keturunan. Padahal kalau tidak ditangani sejak dini, dampaknya bisa panjang terhadap perkembangan anak,” ungkapnya.

Diskusi juga menjadi bagian penting dalam persiapan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan Rembug Stunting Nagari yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Juni 2026 mendatang. Melalui forum tersebut nantinya diharapkan lahir langkah konkret dan program bersama untuk menekan angka stunting di Nagari Panampuang.

Baca Juga : Pertemuan Rutin Triwulan Rumah Desa Sehat: Pilar Konsolidasi Layanan Kesehatan dan Pencegahan Stunting di Nagari

Menjelang penutupan kegiatan, Surya Putra selaku TPP Ampek Angkek menyampaikan harapan agar pengurus Rumah Desa Sehat yang baru resmi dikukuhkan mampu menyusun program kerja yang jelas dan terarah selama tahun 2026. Menurutnya, keberadaan Rumah Desa Sehat harus benar-benar menjadi pusat koordinasi layanan dasar kesehatan di nagari.

“Kami berharap pengurus RDS yang sudah dikukuhkan hari ini segera menyiapkan program kerja selama satu tahun penuh. Semua layanan dasar terkait kesehatan di nagari harus terlihat, terdata, dan berjalan terkoordinasi dengan baik,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan stunting tidak akan selesai jika hanya mengandalkan satu sumber pendanaan ataupun satu lembaga saja. Dibutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak, baik pemerintah nagari, tenaga kesehatan, kader, lembaga pendidikan, hingga masyarakat itu sendiri.

“Sejatinya persoalan stunting tidak akan selesai dengan kerja satu pihak saja. Ini adalah kerja kolaborasi. Ketika semua bergerak bersama, maka harapan melahirkan generasi sehat dan berkualitas akan lebih mudah diwujudkan,” tutupnya.

Dari Aula Nagari Panampuang, semangat gotong royong untuk menyelamatkan generasi masa depan kembali diteguhkan. Sebab di balik setiap data stunting, ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, pendampingan, dan harapan untuk tumbuh lebih baik di masa depan.

 

Rembug Stunting Nagari Lubuk Basung Sinergi Cegah Stunting untuk Generasi Emas


Hari ini 25 Mei 2026 Pemerintahan Nagari Lubuk Basung mengadakan kegiatan Rembug Stunting  dengan peserta Kepala Puskesmas,Pemerintah Kecamatan,Bidan desa, kader Posyandu, TP PKK,unit kerja Pendidikan Paud,tenaga Penyuluh KB,Pendamping Desa,tenaga sosial PKH dan perwakilan masyarakat lainnya.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bersama untuk mengidentifikasi permasalahan, merumuskan solusi, dan menyepakati program prioritas dalam upaya percepatan penurunan stunting 

Kepala Puskesmas menegaskan bahwa stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tapi tentang masa depan generasi yang akan datang calon pemimpin bangsa. “Kalau anak kita sehat dan cerdas, maka desa kita juga akan maju,” ujarnya.

Dalam sesi pemaparan data umpan balik hasil Pemetaan 1000 HPK dan FGD Stunting dan  kondisi terkini terkait angka stunting, status gizi balita, dan faktor risiko yang masih ditemukan di lapangan dan beberapa isu stunting lainnya.

Dari diskusi tersebut, forum menyepakati beberapa program prioritas untuk ditindaklanjuti ke perencanaan desa tahun 2027


Kegiatan ditutup dengan penandatanganan Berita Acara kesepakatan Rembug Stunting sebagai komitmen bersama untk dituangkan dalam RKPDes 2027 yang ditanda tangani oleh oleh Bamus,Wali Nagari dan Kepala Puskesmas Lubuk Basung. Semua pihak sepakat bahwa penurunan stunting tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Butuh kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan seluruh masyarakat.

#RembugStunting #CegahStunting  #GenerasiEmas 

 

Cegah Stunting Itu Penting! Kilas Rembuk Stunting Nagari Koto Gadang, Kec. IV Koto, Kab. Agam

                                     Koto Gadang, 25 Mei 2026


Kegiatan rembuk stunting Nagari Koto Gadang berlangsung dengan penuh semangat dan kepedulian bersama terhadap masa depan generasi muda. Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, kader posyandu, perangkat nagari, tenaga kesehatan, serta tokoh masyarakat yang memiliki komitmen kuat dalam upaya percepatan penurunan angka stunting. Rembuk stunting menjadi wadah penting untuk menyatukan pandangan, mengevaluasi kondisi yang ada, serta menyusun langkah prioritas demi menciptakan anak-anak nagari yang sehat dan berkualitas.



Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Puskesmas IV Koto yang menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak sejak dini. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa konseling gizi bagi calon pengantin, sangat penting dilakukan. Menurut beliau, hampir semua ibu hamil sulit untuk makan yang cukup karena rasa mual dan kurangnya pemahaman tentang kebutuhan gizi selama kehamilan. Padahal ibu hamil wajib memperhatikan asupan gizi demi kesehatan dirinya dan perkembangan janin.

Kepala Puskesmas IV Koto juga menyampaikan bahwa saat ini terdapat 14 kasus stunting di Nagari Koto Gadang dan hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh pihak. Angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting masih harus terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor. Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menganggap stunting sebagai persoalan individu semata, melainkan masalah bersama yang membutuhkan kepedulian dan aksi nyata dari seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, beliau juga mengimbau kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita agar lebih mengutamakan memasak makanan sendiri di rumah. Makanan rumahan dinilai lebih sehat karena kebersihan, kandungan gizi, dan kualitas bahan makanan dapat lebih terjamin. Dengan pola makan yang sehat dan seimbang, pertumbuhan anak dapat terjaga dengan baik sehingga risiko stunting dapat ditekan sejak dini. Kebiasaan sederhana seperti memasak di rumah menjadi salah satu langkah nyata dalam menjaga kesehatan keluarga.



Dalam pemaparannya, Kepala Puskesmas IV Koto juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari konsumsi junk food, terutama bagi balita, anak-anak, dan ibu hamil. Makanan cepat saji yang rendah gizi dan tinggi kandungan garam maupun lemak dinilai dapat berdampak buruk terhadap tumbuh kembang janin dan pertumbuhan anak. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya pola makan sehat demi menciptakan generasi yang kuat, sehat, dan cerdas di masa mendatang.

Beliau menegaskan bahwa tugas bersama seluruh masyarakat adalah membantu anak nagari tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh. Anak-anak merupakan aset masa depan nagari yang harus dijaga sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan. Dengan perhatian terhadap kesehatan, pendidikan, dan pola asuh yang baik, diharapkan angka stunting dapat ditekan secara bertahap dan kualitas sumber daya manusia di Nagari Koto Gadang semakin meningkat.

Setelah sambutan dan penyampaian materi dari Kepala Puskesmas IV Koto selesai, acara dilanjutkan dengan sesi rembuk stunting yang dipandu oleh Pak Aditia Rahmat dari TPP IV Koto. Dalam materinya, beliau menjelaskan bahwa kondisi dana desa pada tahun ini mengalami pengurangan karena adanya kebijakan pengalokasian untuk KDMP. Hal tersebut menyebabkan keterbatasan anggaran di nagari sehingga tidak semua usulan kegiatan pencegahan stunting dapat didanai. Oleh sebab itu, kegiatan yang diprioritaskan adalah program-program yang benar-benar penting dan berdampak langsung terhadap penanganan stunting.

Pak Aditia Rahmat juga menyampaikan bahwa terdapat tiga aspek utama yang perlu digali dalam mencari solusi permasalahan stunting, yaitu sasaran kegiatan, sarana dan prasarana posyandu, serta peningkatan kapasitas kader posyandu. Seluruh usulan kegiatan harus dimasukkan ke dalam APB dan RKP Nagari agar dapat memperoleh pendanaan dan direalisasikan. Pada akhir kegiatan dilakukan pembacaan hasil usulan tahun sebelumnya, penambahan usulan baru tahun ini, serta penetapan enam usulan prioritas yang akan dimasukkan ke dalam RKP Nagari sebagai langkah konkret dalam mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting di Nagari Koto Gadang.

 

Minggu, 24 Mei 2026

Pemetaan 1000 HPK dan FGD nagari koto gadang

Koto Gadang, Senin 25 Mei 2026.

Peningkatan promosi dan pelayanan dasar kesehatan merupakan salah satu amanah penting dalam Undang-Undang Desa yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat desa dan nagari. Dalam mendukung amanah tersebut, Pemerintahan Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam mulai melaksanakan tahapan perencanaan kegiatan RKP Tahun 2027 melalui pemetaan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting yang saat ini menjadi perhatian bersama pemerintah pusat hingga pemerintah nagari.

Program pencegahan stunting sendiri merupakan salah satu bentuk intervensi yang menjadi kewenangan desa. Melalui Dana Desa, pemerintah nagari memiliki ruang untuk merencanakan berbagai program yang mendukung peningkatan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pelayanan dasar masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan pemetaan dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan di Nagari Koto Gadang menjadi langkah awal dalam menyusun program yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi riil masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat, mulai dari Sekretaris Camat IV Koto yang mewakili Camat Kecamatan IV Koto, Bapak Amrizal, S.Sos, Kepala Puskesmas Kecamatan IV Koto Drg .Yuliaty, Pendamping Desa, Pendamping Lokal Desa, Bamus Nagari Koto Gadang, Wali Nagari Koto Gadang, perangkat nagari Koto Gadang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PKK, kader posyandu, Kader Pembangunan Manusia (KPM), hingga bidan desa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya komitmen bersama dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan dan pencegahan stunting di Nagari Koto Gadang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh protokol yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Bamus Nagari Koto Gadang, Adek Dt Nan Putiah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya kerja sama seluruh unsur nagari dalam mendukung program kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting. Menurut beliau, perencanaan yang baik akan menghasilkan program yang tepat guna dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Wali Nagari Koto Gadang, Bapak Syafrianto. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada seluruh kader posyandu yang selama ini dinilai sangat aktif dan antusias dalam melaksanakan kegiatan posyandu di Nagari Koto Gadang. Menurut beliau, keberhasilan pelayanan kesehatan di nagari tidak terlepas dari kerja keras dan pengabdian para kader yang terus mendampingi masyarakat hingga ke tingkat keluarga.



Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Sekretaris Camat IV Koto, Bapak Amrizal, S.Sos. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa 

"seluruh kesepakatan yang nantinya dibahas dalam FGD diharapkan dapat dijalankan bersama-sama oleh seluruh unsur terkait. "

Sambutan dari Sekretaris Camat kecamatan IV Koto .

Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah nagari, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat agar program yang direncanakan benar-benar memberikan manfaat nyata.

Dalam sesi FGD, peserta melakukan analisa terhadap berbagai permasalahan yang terjadi pada sasaran dengan menggunakan peta sosial ibu hamil dan peta anak baduta. Dari hasil pemetaan tersebut, peserta dapat melihat berbagai kondisi dan persoalan yang terjadi di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Melalui diskusi tersebut, seluruh peserta bersama-sama mencari solusi penyelesaian masalah yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat Nagari Koto Gadang.






Selain membahas kondisi ibu hamil dan anak baduta, dalam FGD juga dibahas berbagai persoalan yang terjadi pada remaja putri dan calon pengantin. Hal ini dilakukan karena pencegahan stunting tidak hanya dimulai ketika seorang ibu hamil, tetapi juga sejak masa remaja dan persiapan menuju pernikahan. Dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan remaja putri dan calon pengantin, diharapkan kualitas kesehatan generasi mendatang dapat lebih baik.


Dalam diskusi tersebut juga disepakati bahwa terdapat tiga komponen mendasar yang harus terpenuhi dalam pelayanan posyandu. Pertama, tersedianya alat-alat yang digunakan untuk melayani sasaran. Kedua, peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petugas atau kader yang memberikan pelayanan. Ketiga, tersedianya tempat pelayanan yang layak dan memadai bagi masyarakat. Ketiga komponen tersebut dinilai sangat penting dalam mendukung kualitas pelayanan kesehatan di tingkat nagari.

Seluruh hasil pembahasan, mulai dari identifikasi permasalahan hingga solusi penyelesaiannya, nantinya akan direkap dan dibawa ke dalam forum rembuk stunting. Hasil rembuk tersebut kemudian akan menjadi bagian penting dalam penyusunan RKP Nagari Tahun 2027. Dengan adanya kerja sama yang baik antara pemerintah nagari, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, diharapkan Nagari Koto Gadang mampu melahirkan program-program yang efektif dalam mencegah stunting serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

 

Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial Batu Taba, Langkah Kecil yang Menyalakan Harapan Desa

Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba
Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba

TPP Agam - Nagari Batu Taba : Nagari Batu Taba kembali memperlihatkan bahwa desa tidak pernah kekurangan semangat untuk tumbuh. Di tengah tantangan pertanian yang semakin kompleks, mulai dari perubahan cuaca, harga pupuk, hingga minat generasi muda yang mulai menjauh dari dunia tani, secercah harapan justru hadir dari tangan para petani milenial.

Sabtu, 23 Mei 2026, menjadi hari yang cukup berkesan bagi masyarakat Nagari Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek. Di sebuah lahan pertanian milik Fauzan, salah satu petani milenial binaan BUMNag Sukatan Batu Taba, dilaksanakan kegiatan Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial yang dihadiri berbagai unsur nagari dan masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar panen biasa. Ia menjadi simbol awal tumbuhnya kolaborasi antara BUMNag, pemerintah nagari, pendamping desa, dan generasi muda dalam membangun usaha pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Panen Perdana Bawang Merah Jadi Semangat Baru Petani Milenial

Sejak pagi, masyarakat mulai berdatangan ke lokasi kebun. Hamparan bawang merah yang mulai dipanen menghadirkan suasana penuh rasa syukur. Meskipun sederhana, kegiatan ini terasa hangat karena dihadiri langsung oleh Wali Nagari Batu Taba Rahmat Hidayat, Ketua BAMUS Nagari Batu Taba Gusti Kamal, M.Pd, Sekretaris Nagari, pengurus dan pengawas BUMNag Sukatan, TPP Ampek Angkek, hingga masyarakat sekitar.

Di sela-sela kegiatan, para tamu undangan tampak berbincang langsung dengan petani dan melihat hasil panen yang mulai dikumpulkan. Dari lahan tersebut, diperkirakan hasil panen mencapai sekitar 1 ton bawang merah.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi petani milenial di Batu Taba, hasil ini menjadi langkah awal yang cukup menggembirakan.

Fauzan, pemilik lahan sekaligus salah satu petani milenial yang terlibat dalam program BUMNag Sukatan, mengaku bersyukur atas hasil yang diperoleh. Ia juga mengungkapkan bahwa panen sebenarnya direncanakan lebih awal.

“Sebenarnya kami sudah bisa panen seminggu yang lalu. Namun karena persiapan belum selesai dilakukan, akhirnya panen baru bisa dilaksanakan sekarang,” ujar Fauzan.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada proses, perhitungan, dan kesiapan yang harus diperhatikan agar hasil benar-benar optimal.

Panen Perdana Bawang Merah Petani Milenial BUMNag Sukatan Batu Taba

BUMNag Sukatan Batu Taba Dorong Kolaborasi Pertanian Desa

Kegiatan panen perdana ini juga menjadi bagian dari pengembangan unit usaha pertanian yang sedang dibangun oleh BUMNag Sukatan Batu Taba. Dalam beberapa tahun terakhir, BUMNag mulai mencoba membuka ruang usaha yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, salah satunya sektor pertanian.

Langkah ini dinilai penting mengingat sebagian besar masyarakat desa masih menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Namun selama ini, banyak petani bergerak sendiri-sendiri tanpa dukungan sistem yang kuat.

Wali Nagari Batu Taba, Rahmat Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal yang cukup baik dalam membangun kolaborasi antara BUMNag dan petani milenial.

“Kegiatan ini cukup berhasil sebagai langkah awal unit usaha pertanian melalui kolaborasi dengan petani milenial,” ungkapnya.

Menurutnya, keberhasilan kecil seperti ini perlu terus dijaga dan dikembangkan agar generasi muda mulai melihat pertanian sebagai peluang, bukan sekadar pekerjaan tradisional yang melelahkan.

Di banyak desa, tantangan terbesar pertanian saat ini bukan hanya soal modal dan cuaca, tetapi juga minimnya regenerasi petani. Anak muda lebih banyak memilih bekerja di kota dibandingkan turun ke sawah atau kebun. Karena itu, munculnya petani milenial seperti Fauzan menjadi harapan baru yang patut diapresiasi.

Ketua BAMUS Batu Taba Ingatkan Pentingnya Waktu Panen

Dalam kegiatan tersebut, Ketua BAMUS Nagari Batu Taba, Gusti Kamal, M.Pd juga memberikan pandangan yang cukup menarik terkait hasil panen bawang merah tersebut.

Ia menilai hasil panen perdana ini sudah cukup bagus untuk tahap awal. Namun ia juga mengingatkan pentingnya ketepatan waktu panen agar hasil yang diperoleh lebih maksimal.

“Hasil awal ini sudah cukup bagus. Namun mestinya jika dipanen lebih awal, hasilnya akan lebih baik. Karena jika sudah melewati masa panen, buah akan menyusut dan menjadi batang sehingga hasil tidak maksimal,” jelasnya.

Pernyataan itu menjadi catatan penting bahwa pertanian modern membutuhkan manajemen yang baik. Tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga perlu perencanaan, pengawasan, dan pengetahuan teknis yang tepat.

Hal-hal sederhana seperti menentukan waktu tanam, pemupukan, hingga waktu panen ternyata sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.

Pentingnya SOP dan Pendampingan untuk Petani Milenial

Sementara itu, Ketua Pengawas BUMNag Sukatan Batu Taba, Sofia Murni, M.Pd menyoroti pentingnya aturan dan standar kerja dalam pengelolaan usaha pertanian desa.

Menurutnya, jika program pertanian ini ingin berkembang dan melibatkan lebih banyak petani milenial, maka harus ada SOP atau standar operasional yang jelas.

“Perlu dibuat aturan dan SOP yang baik agar bisa dilakukan oleh semua petani milenial sehingga hasilnya bisa maksimal,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sangat relevan. Selama ini, banyak usaha pertanian di desa berjalan secara spontan tanpa sistem yang jelas. Akibatnya, kualitas hasil sering tidak stabil dan sulit berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

Dengan adanya SOP, petani memiliki pedoman yang sama dalam proses budidaya. Mulai dari pengolahan lahan, penggunaan bibit, pola pemupukan, hingga penanganan pasca panen.

Jika langkah ini berhasil diterapkan, bukan tidak mungkin Batu Taba nantinya memiliki kelompok petani milenial yang mampu menjadi contoh bagi nagari lainnya.

Direktur BUMNag Sukatan Batu Taba Bersyukur atas Panen Perdana

Keberhasilan panen perdana bawang merah ini juga mendapat perhatian langsung dari Direktur BUMNag Sukatan Batu Taba, M. Irfan. Di tengah suasana panen yang berlangsung sederhana namun penuh semangat itu, ia menyampaikan rasa syukur atas hasil yang berhasil dicapai bersama para petani milenial.

Menurutnya, panen perdana ini bukan hanya tentang hasil bawang merah yang diperoleh, tetapi juga tentang lahirnya semangat baru dalam membangun usaha pertanian desa melalui kolaborasi yang nyata.

“Kami bersyukur atas panen perdana ini. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi petani milenial dan perjalanan BUMNag Sukatan Batu Taba ke depannya,” ujar M. Irfan.

Ia menilai, keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian perlu terus didorong agar desa tidak kehilangan regenerasi petani di masa mendatang. BUMNag, kata dia, akan terus berupaya menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda yang ingin berkembang melalui sektor pertanian dan usaha produktif lainnya.

Bagi BUMNag Sukatan Batu Taba, kegiatan ini juga menjadi pembelajaran penting bahwa membangun unit usaha desa membutuhkan proses, kesabaran, dan kerja bersama. Tidak semua langsung berjalan sempurna, namun keberanian untuk memulai menjadi langkah yang sangat berarti bagi kemajuan nagari.

TPP Ampek Angkek Dorong Penguatan Unit Usaha Pertanian Desa

Kegiatan pendampingan dalam panen perdana ini juga mendapat perhatian dari Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Ampek Angkek. Pendamping desa melihat bahwa pengembangan unit usaha pertanian melalui BUMNag memiliki potensi besar jika dikelola secara serius.

Indra Nofiardi dari TPP Ampek Angkek menyampaikan bahwa BUMNag perlu terus berbenah dan meningkatkan kualitas pengelolaan usaha agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Pendamping berharap unit usaha BUMNag dapat terus berbenah dan meningkatkan hasilnya agar berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa sektor pertanian membutuhkan dukungan tenaga yang memahami bidang pertanian secara teknis agar hasil produksi lebih terkontrol.

“Khususnya kegiatan pertanian ini perlu melibatkan tenaga pertanian sehingga kualitas hasilnya dapat lebih terkontrol dan optimal,” tambahnya.

Pendampingan seperti ini menjadi penting karena desa tidak cukup hanya memiliki program. Yang jauh lebih penting adalah memastikan program berjalan dengan arah yang jelas, terukur, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kebersamaan di Tengah Ladang Jadi Penutup yang Menghangatkan

Makan bersama di ladang saat panen perdana bawang merah BUMNag Batu Taba
Makan bersama di ladang saat panen perdana bawang merah BUMNag Sukatan Batu Taba

Usai kegiatan panen perdana berlangsung, suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta yang hadir berkumpul sederhana di tengah ladang. Tidak ada jamuan mewah, namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan yang sulit digambarkan.

Tuan Rumah menyediakan bubur ketan dan kacang hijau untuk disantap bersama di lokasi kebun. Di tengah hamparan lahan pertanian dan aroma tanah yang masih basah, para tamu, petani, pengurus BUMNag, pendamping desa, hingga masyarakat duduk bersama sambil berbincang ringan tentang harapan pertanian desa ke depan.

Momen sederhana itu menjadi pemandangan yang mulai jarang ditemukan. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak antara masyarakat dan pemangku kepentingan. Semua larut dalam suasana kekeluargaan yang tumbuh dari hasil kerja bersama.

Beberapa masyarakat bahkan menyampaikan bahwa kebersamaan seperti ini sudah lama tidak dirasakan. Duduk bersama di tengah ladang setelah panen menghadirkan kembali nilai-nilai gotong royong dan kekompakan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa.

Di balik panen bawang merah tersebut, tersimpan pesan penting bahwa pembangunan desa bukan hanya soal hasil dan keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, desa juga membutuhkan ruang-ruang kebersamaan yang mampu mempererat hubungan sosial masyarakat.

Panen Perdana Jadi Awal Harapan Baru Pertanian Desa

Panen perdana bawang merah petani milenial Nagari Batu Taba akhirnya bukan sekadar cerita tentang hasil pertanian, tetapi juga tentang bagaimana kebersamaan, semangat gotong royong, dan harapan baru masih tumbuh subur di tengah masyarakat desa.

Panen ini memang belum sempurna. Masih ada evaluasi, pembelajaran, dan tantangan yang harus dihadapi ke depan. Namun justru dari proses awal seperti inilah pengalaman dibangun.

Desa membutuhkan keberanian untuk mencoba. Membutuhkan anak muda yang mau turun ke lapangan. Membutuhkan kolaborasi antara pemerintah nagari, BUMNag, pendamping desa, dan masyarakat.

Apa yang dilakukan BUMNag Sukatan Batu Taba bersama petani milenial hari ini menjadi contoh bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dijaga bersama.

Ke depan, harapan masyarakat tentu bukan hanya pada hasil panen yang meningkat, tetapi juga lahirnya ekosistem pertanian desa yang lebih modern, terencana, dan mampu menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Nagari Batu Taba.